Saturday, 17 November 2012

KEPASTIAN KESELAMATAN


Efesus 2 : 8,9

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Suatu waktu ketika saya melayani di penjara, seorang “penghuni” menanggapi topik yang sedang saya sampaikan yaitu Kepastian Keselamatan.  Sebagai seorang tahanan yang sedang “membayar” dosa kejahatannya, sangat sulit baginya memahami topik bahwa seseorang pasti selamat oleh karena iman saja. Sangat sulit baginya memahami arti kasih karunia. Dia bertanya: “Jika saya percaya pada Yesus, kemudian saya berbuat dosa, apakah saya masih diterima di sorga?” bahkan lebih ekstrim lagi dia bertanya: “Jika saya membunuh orang lagi? Apakah saya masih diselamatkan?”

Saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus, tidak ada tempat di dunia yang lebih baik lagi untuk kita belajar tentang kasih karunia selain di penjara (Lembaga Pemasyarakatan/LAPAS). Saya menantang setiap pendeta atau gembala atau guru jemaat untuk melayani di LAPAS guna memahami arti Kasih Karunia dan Kepastian Keselamatan.
Kemudian apa jawaban kita terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut? Apakah menurut saudara? Tetapkah keselamatan itu di dalam diri orang tersebut? Atau hilangkah keselamatan itu? Sedangkan firman Allah berkata itu bukan hasil usahamu, itu bukan hasil pekerjaanmu?

Jawaban saya saat ini kepada saudara seiman kita yang dipenjarakan ini adalah: YA! Keselamatan tetap menjadi milikmu.
Saudara dapat membayangkan betapa tidak masuk akalnya jawaban ini. Termasuk sayapun jika sebelumnya tidak sungguh-sungguh mendalami dan mempercayai Firman Allah, tentu akan tergoncang dan membenarkan pikiran umum bahwa orang baik layak mendapat surga sementara orang jahat tidak.  Terpancing untuk menyetujui bahwa perbuatan kitalah yang menentukan kita masuk atau tidak, layak atau tidak, boleh atau tidak boleh memperoleh Surga.

Kawan kita yang sedang “membayar” hukuman sidang dunia di penjarakan oleh kasus pembunuhan tentu sulit menerimanya. Mengapa? Karena dia berpikir bahwa dia sedang melunasi hutang kejahatannya. Pertanyaannya, apakah jika dia sudah selesaikan masa hukumannya, dia menjadi bersih dan layak untuk disebut orang benar? Layak masuk surga? Tentu tidak! Sama sekali tidak!
Bahkan bagi seorang yang tidak mengalami hukuman penjarapun, dan selalu salehpun tidak mungkin layak dihadapan Allah dengan segala perbuatan baiknya. Kenapa? Karena kita semua telah berdosa, dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23; Pengkotbah 7:20). Kita semua terlahir dalam status manusia berdosa, keturunan manusia berdosa, dan bahkan cenderung menyenangi perbuatan dosa.

Kita berbuat dosa bahkan dalam kandungan ibu kita (Mazmur 51:7 “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakan, dalam dosa aku dikandung ibuku.”). Sebagai contoh, ketika bayi dalam kandungan, saat-saat tertentu dia kesal atau iseng menendang-nendang perut ibunya. Mungkin bagi sang ayah ini sesuatu yang menyenangkan, tapi coba tanyakan pada sang ibu, bagaimana rasa sakitnya?
Topik sebelumnya yaitu : 4 tawaran Iblis-manusia jatuh ke dalam dosa; telah menjelaskan kenapa manusia itu tidak mungkin dapat menyelamatkan dirinya sendiri dengan perbuatannya. Hanya karya penebusan Yesus Kristus yang mampu menebus dosa manusia.  

Namun menyusul dengan topik saat ini tentang Kepastian Keselamatan, pertanyaan muncul, jadi seperti apa kepastian keselamatan itu dan hubungannya dengan perbuatan, jika memang perbuatan baik dan benar tidak dapat menjamin keselamatan?

Kepastian Keselamatan dapat dijelaskan dalam dua aspek. Mari kita lihat bersama apa maksudnya.

I. ASPEK YURIDIS (HUKUM TERTULIS)
Aspek Yuridis menjelaskan bahwa kita dihukum untuk dan dalam kematian karena dosa. Semua itu jelas dari Kejadian Pasal 3, bahwa manusia dihukum karena berdosa. “Jika kamu memakan buah itu, kamu akan mati!” Sesuai Firman Tuhan juga Roma 6:23a: “Sebab upah dosa ialah maut/mati!..”.

Tetapi hukum Allah jugalah yang menetapkan kita memperoleh keselamatan yaitu dengan percaya kepada Yesus Kristus yang sudah menggantikan kita.  Tuhan Yesus sudah mengambil hukuman itu dan menanggungnya bagi semua umat manusia.  Maka peraturan Allah sekarang adalah, mereka yang percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, akan diselamatkan; sedangkan yang tidak percaya, tetap dan sudah di bawah hukuman!
1 Petrus 2:24 “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”

Roma 5:9 “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.”
Roma 5:1 “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.”

Lukas 19:10 “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”
Yohanes 1:12 “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”

Galatia 3:26 “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.”
Kenapa saya berani memastikan bahwa seorang diselamatkan bukan karena perbuatannya baik atau benar? Ya karena aspek Yuridis ini, yang ditetapkan oleh Allah sendiri. Hukum tertulis dalam Alkitab yang memastikan kita selamat dengan iman kepada Yesus, bukan karena kita tidak berbuat dosa lagi atau karena hidup kudus dan sebagainya.  Jikalau memang perbuatan baik, kudus, amal dan benar kita mampu mempertahankan keselamatan kita, maka Yesus Kristus sebagai Juruselamat hanya berlaku sekali saja, setelah itu, kita tidak membutuhkan Dia lagi.

Tetapi tidak demikian adanya, karena perbuatan baik kita, usaha kita untuk hidup benar sekalipun, tidak dinilai untuk mendapatkan tiket keselamatan ke surga itu. Hanya darah Yesus Kristus pada salib yang dinilai. Hukumnya singkat dan jelas: Percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Penebusmu, maka  dirimu diselamatkan. Jika tidak percaya, ya tidak diselamatkan!
Sekarang timbul pertanyaan cerdik (atau bisa dikatakan licik): “Jadi kalau percaya Yesus untuk keselamatan, maka sekarang saya bebas berbuat sesuka hati saya bukan? Aha…..!!!” Disinilah kita kan melihat aspek berikutnya, yaitu aspek dinamis dalam keselamatan.



II. ASPEK DINAMIS (HUKUM TERLIHAT)
Aspek dinamis ini adalah aspek ajaib bagi orang percaya. Aspek ini berkaitan erat dengan peranan Roh Allah dalam diri orang percaya.  Sulit untuk dipahami oleh orang yang belum percaya pada Tuhan Yesus, karena Roh Allah atau yang lebih sering disebut Roh Kudus, hanya berdiam dalam hati orang yang percaya pada Yesus Kristus.

Dinamis, dunamos, dinamik, dinamit adalah sifat Roh Kudus. Dia menggerakkan orang-orang percaya untuk hidup dan mengerti kebenaran Firman Allah. Entah bagaimana, percaya kepada Yesus seperti “password” untuk masuk ke dalam seluruh anugerah Allah, dan Roh Kudus inilah yang mengantarkan kita pada aspek-aspek dinamis dari keselamatan.
Ada 5 aspek-aspek dinamis keselamatan. Yaitu:

1.       Aspek Teologis.

Aspek teologis merupakan aspek pertama yang nyata dalam hidup orang percaya. Untuk pertama kali dalam hidup seseorang bahwa dia kembali memiliki relasi dengan Allah. Dipulihkan hubungannya dengan Penciptanya.
Sebelumnya, manusia terputus dari Allah. Sejak kejatuhan Adam dan Hawa, seluruh keturunan Adam dan Hawa lahir di luar Taman Eden. Taman Eden adalah lambang hubungan Allah dengan manusia yang erat, setara dan bahagia. Dimana manusia tidak ketakutan melihat Allah. Dimana Allah bisa berjalan-jalan mengelilingi taman sambil bercanda dengan manusia. Namun semuanya jadi perseteruan ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Bahkan manusia membuat Allah terpaksa menguliti hewan untuk membuatkan pakaian bagi mereka. Ini sebuah peristiwa dahsyat.
Ketika seseorang percaya kepada Yesus, satu hal yang pasti yang dirasakan olehnya adalah kehadiran Allah dalam wujud Roh-Nya. Seseorang menjadi memiliki hubungan kembali dengan Allah, seperti dilayakkan dan bahkan erat dengan Allah.  Firman Allah memastikannya dengan kehidupan Yesus Kristus. Tuhan Yesus selalu menyebut Allah sebagai Bapa-Nya, bahkan mengajarkan doa kepada murid-murid-Nya untuk menyapa Allah sebagai Bapa kami yang di sorga.
Suatu waktu saat pelayanan di LAI, saya bertemu seorang gadis berjilbab yang terheran-heran mendengar kami berdoa dengan memanggil Bapa.  Kemudian dia bertanya pada saya: “Kak, mengapa orang Kristen berdoa memanggil Allah itu Bapa?”.  Tentu beranjak dari pertanyaan itu saya menjelaskan bahwa dengan beriman pada Yesus Kristus sajalah, kami diangkat menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Itu sesuai Firman Allah dalam Alkitab.  Sebagai anak-anak Allah kami dapat memanggil Allah itu Bapa, demikian juga jika kami mati, kamipun akan kembali ke rumah Bapa kami, yaitu Surga.
Alkitab bahkan lebih ekstrim lagi menyebutkan hubungan Bapa dan anak ini, dalam Galatia 4:6 firman Tuhan: “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru:”ya Abba, ya Bapa!””.  Sebutan Abba ini adalah sebutan manja seorang anak kecil (Israel/Timur Tengah) kepada Ayahnya, seperti sebutan “daddy” atau “papi”.  Lihat aspek dinamis ini.
Hubungan teologis ini memberikan hak khusus bagi orang percaya untuk berhubungan lebih erat dengan Allah. Bisa berdoa menyebut Allah Bapa.  Kehadiran Roh Kudus juga menjadi kunci yang membuka rahasia Alkitab sehingga seorang Kristen bisa memahami maksud dan rencana Allah lewat Firman-Nya.
Selain Roh Kudus menjadi kekuatan bagi orang yang baru percaya untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan buruknya yang bertentangan dengan Firman Allah, Roh Kudus juga menjadi penggoncang hati orang percaya tersebut ketika akan ataupun saat jatuh dalam perbuatan dosa. Sehingga orang tersebut menyadari dan segera berbalik/bertobat.
Seseorang yang benar-benar beriman pada Yesus demi keselamatannya, tentunya memiliki aspek dinamis ini. Ini aspek yang bukan oleh kekuatan orang tersebut, tetapi karena kehadiran Roh Allah. Kembali ke pertanyaan awal, sanggupkah seseorang yang didiami Roh Kudus kembali sengaja menyakiti Yesus Kristus? Tentu tidak mudah. Ketika saya balikkan pertanyaan ini kepada saudara kita tahanan itu, dia tersenyum berkata, aku tidak mau dan tidak tega menyakiti Yesus lagi.

2.       Aspek Psikologis.
Aspek psikologis ini berhubungan dengan kejiwaan.  Saya tidak mengatakan aspek ini adalah seperti seseorang kerasukan setan dan setelah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Penebus, kemudian setan itu pergi dan jiwanya tenang. Bukan itu (walaupun mirip atau bisa juga dikatakan seperti itu).
Yang dimaksud disini adalah kedamaian jiwa karena telah memiliki hubungan baik dengan Allah. Sebelumnya adalah seteru Allah, kini telah diperdamaikan dengan Allah (Roma 5:1).
Keselamatan ini menghilangkan kegelisahan dan keraguan dalam hati orang percaya. Orang yang pertama kali bertobat dan menerima Kristus selalu menampilkan jiwa yang damai dan lega. Segala bebannya seakan terangkat lepas. Sebuah kata-kata Yesus dalam Yohanes 14:1 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percaya jugalah kepadaku.”, cukup menenangkan para murid.
Kelegaan dan kedamaian jiwa juga karena menyadari bahwa sekarang Allah berpihak pada kita, bahwa Allah berniat dan pasti mengantar kita kembali ke rumah-Nya. Bukan ke neraka itu. Haleluya.
3.       Aspek Sosiologis.
Aspek ini menekankan perubahan dalam hubungan dengan orang lain.  Tentu ada perbedaan yang muncul dari orang yang diselamatkan. Selain ada hubungan dengan Allah yang pasti akan mengubahkan dari hari ke hari, juga ada kedamaian jiwa yang menenangkan, tentu semua ini berdampak dalam hubungan sosial.
Seorang ayah yang kasar, mabuk suka menyakiti, ketika menerima keselamatan, berubah menjadi penyayang, sabar dan rendah hati.  Seorang penyendiri dan pendendam, menjadi seorang yang hangat dan menolong banyak orang.  Tentu ada perubahan dalam diri orang ini.  Menjadi kesaksian bagi kemuliaan Tuhan terhadap keluarga, teman dan lingkungannya.
Selain dari sisi positif, tentu juga ada sisi negatifnya. Terutama hubungan sosial dengan orang-orang duniawi di sekitarnya.  Tuhan Yesus memperlihatkan perbedaan ini dalam Matius 10:16  “Lihat Aku mengutus kamu sperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”.  Ini jelas berbicara penolakan orang terhadap iman kita. Dan ini tidak mungkin dihindari. Bisa terjadi bahkan dari keluarga terdekat sampai dalam lingkungan pekerjaan dan sebagainya. 
4.       Aspek Noutis/pikiran.

Orang yang diselamatkan memiliki pikiran yang lebih jernih. Tentu awalnya karena Roh Allah akan memberi kegelisahan atau kedamaian untuk menegur orang percaya. Namun selanjutnya dengan mempelajari Firman Allah dalam Alkitab, seseorang menjadi memiliki filter dalam setiap keputusan-keputusan yang diambil.
Orang percaya akan berpikir lebih hati-hati dalam mengambil keputusan. Semuanya harus melewati kacamata Firman Allah. 
Filipi 4:6-8 “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
5.       Aspek Somatis/tubuh.
Ketika seorang percaya kepada Yesus Kristus tentunya tidak ada perubahan fisik dalam diri orang tersebut, walaupun mungkin ada mujizat yang menyertai seperti buta melihat, lumpuh berjalan dan sebagainya.  Akan tetapi tentu bukan ini yang dimaksud aspek somatis. Sekalipun orang yang dalam Kristus tentu mengalami perubahan pola hidup menjadi pola hidup yang sehat.
Pola hidup sehat ini tentunya berhubungan dengan pertobatannya. Jikalau tadinya bergantung pada rokok, alkohol, obat terlarang dan sebagainya, tentu sekarang dengan meninggalkan itu semua, maka fisik seseorang menjadi lebih baik. Tapi aspek somatis ini tidak semata-mata soal kesehatan fisik, karena hal itu bisa dilakukan tanpa seorang percaya kepada Yesus.

Aspek somatis atau tubuh ini berhubungan dengan fungsi tubuh kita sebagai alat kesaksian.  Orang yang percaya Kristus menyadari bahwa jasmani/tubuhnya adalah bait Allah sekaligus persembahan untuk menjadi alat kesaksian Injil Yesus Kristus.
Roma 12:1 “Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”.
Saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus, dari penjelasan kepastian keselamatan yang dibagi dalam aspek yuridis dan aspek dimanis ini, tentu cukup jelas menjawab betapa mulianya kasih karunia Allah.  Tentu seseorang harus mengecek kedua aspek ini dalam hidupnya, sehingga mereka menyadari, apakah sebenarnya mereka memiliki kepastian keselamatan atau hanya mengira memilikinya.
Ketika saya kembalikan kepada saudara kita yang sedang menjalani hukuman di penjara itu, dia dan juga teman-teman lainnya juga mengakui, bahwa mereka bukan pertama kali tertangkap dan dipenjarakan, namun demikian, sekalipun sudah menyelesaikan hukuman penjara, mereka terus saja dikejar rasa berdosa.  Ternyata hanya kasih karunia yang dapat memberikan keselamatan sejati, pengampunan lunas atas dosa-dosa mereka dan kedamaian.

Dan apakah mereka, saudara dan saya akan menyia-nyiakan kasih karunia ini? Tentu tidak, ataupun tepatnya tidak akan mudah begitu saja meninggalkan Yesus. Apalagi bagi Yesus Kristus untuk meninggalkan kita? Itu sangat mustahil, Dia akan berjuang kalau perlu menghantam seseorang untuk kembali kepada-Nya. Oleh karena itu saya yakin, pengorbanan Kristus pada salib jauh dan teramat jauh lebih besar dari dosa apapun yang kita perbuat.
Sebagai penutup, perhatikan ayat-ayat Alkitab ini dan renungkanlah:

1 Yohanes 1 : 9 “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia akan mengampuni SEGALA dosa kita dan menyucikan kita dari SEGALA kejahatan.”
"Segala" berarti semua, apa saja, dan kapan saja. Dosa masa lalu, sekarang maupun yang belum dilakukan. Saya bersyukur pada Tuhan, bahkan sebelum saya lahir di dunia, Dia telah memberikan kepastian bahwa pengorbanan-Nya pada salib, cukup untuk menghapus segala dosa dan kejahatan saya.  Tentu saja saya secara yuridis dibenarkan dan secara dinamis akan dihidupkan untuk hidup dengan penghormatan dan kasih kepada Tuhan Yesus Kristus (sesuai pertumbuhan iman masing-masing).

1 Yohanes 5:13 “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.”


Amin!! Haleluyah!!!

No comments:

Post a Comment